KTH Sinar Borneo

Desa Telangkai, Kecamatan Dedai, Kabupaten Sintang

Berdiri 2021
20 Anggota Aktif
Desa Telangkai, Kecamatan Dedai
Madu Akasia 200 liter/tahun
Madu Hutan Tropis 150 liter/tahun

Ketika Lebah Mendahului Manusia di Tepi Sungai

Di tepi Sungai Melawi, di sebuah desa kecil yang bahkan tidak semua peta besar menunjukkan, sekelompok lebah sudah membuat sarang di pohon-pohon tua sejak sebelum KTH Sinar Borneo ada. Mereka tidak tahu mereka “sebelumnya” — mereka hanya terus melakukan apa yang telah mereka lakukan selama jutaan tahun: mengumpulkan nektar, membuat madu, bertahan hidup.

Pak Rahmat, 45 tahun, adalah salah satu from 20 anggota KTH Sinar Borneo. Dia tidak pernah belajar tentang lebah di sekolah. Semua yang dia tahu tentang lebah datang dari наблюдения — memperhatikan where bees fly, kapan mereka sibuk, apa warna serbuk sari yang mereka bawa.

“Ini bukan ilmu dari buku,” katanya. “Ini ilmu dari forests.”

Madu Akasia vs Madu Hutan: Bukan Dua Nama untuk Hal yang Sama

KTH Sinar Borneo menghasilkan dua jenis madu yang berbeda secara fundamental:

Madu Akasia — Madu dari nektar bunga pohon akasia yang banyak tumbuh di sepanjang tepi sungai dan area terbuka di Desa Telangkai. Ciri khasnya: warnanya sangat terang (hampir transparan saat dicairkan), rasa manis yang lembut tanpa aftertaste pahit, dan tekstur yang lebih encer dibanding madu hutan.

“Ini madu yang orang городской paling suka. Tidak terlalu strong, tidak ada rasa aneh. Untuk orang yang belum biasa minum madu pure — ini yang рекомендация,” kata Pak Rahmat.

Musim bunga akasia: April-Juni. Saat ini, madu berwarna putih kekuningan seperti karamel cair. Harganya cenderung lebih tinggi karena rasanya yang universal.

Madu Hutan Tropis — Madu dari campuran nektar berbagai bunga hutan tropis Kalimantan Barat. Warnanya lebih gelap (kuning kecokelatan hingga amber gelap), rasa lebih kompleks — kadang ada note pahit, kadang ada rasa floral yang kuat, tergantung apa yang sedang berbunga.

“Madu hutan ini bukan untuk semua orang. Untuk orang yang sudah biasa minum madu hutan — mereka akan menjadi kecanduan. Tapi untuk orang yang mengharapkan vanilla honey dari supermarket — ini akan terlalu kompleks,” kata Pak Rahmat sambil tersenyum.

Musim madu hutan: September-Desember, setelah musim buah-buahan hutan.

Dari Pohon ke Stoples

Proses pengambilan madu oleh KTH Sinar Borneo adalah Balance antara extraction dan konservasi:

Identifikasi sarang — Tidak semua sarang diambil. KTH memiliki daftar pohon-pohon yang sudah “approved” untuk pengambilan. Pohon yang terlalu muda, terlalu dekat dengan jalan, atau sarang yang terlalu kecil — tidak disentuh.

“Lebah butuh waktu untuk membangun sarang baru. Kalau kita ambil semua sarang, lebah akan pergi dan tidak akan kembali ke area ini,” jelas Pak Rahmat.

Pengambilan dengan api smoke — Smoke digunakan untuk menenangkan lebah, bukan untuk menggusur lebah. Jumlah smoke harus sedikit — terlalu banyak, lebah akan panik dan madu akan berbau asap.

Peratakan — Setelah sarang diambil, madu dari berbagai sarang dicampur (blended). Ini bukan untuk “menyamakan” rasa — tapi untuk membuat karakter yang konsisten dari batch ke batch.

Penyaringan — Madu disaring dengan kain halus untuk menghilangkan sisa lilin dan partikel pohon. Tidak dipasteurisasi. Tidak dipanaskan.

Pengemasan — Langsung dikemas dalam stoples. Tidak dituang ke dalam drum besar untuk “waiting” - karena setiap bulan penundaan mengurangi kualitas.

Apa yang Membuat Madu Sinar Borneo Berbeda

Tidak ada single flower monofloral — Madu hutan tropis selalu campuran. Ini bukan cacat — ini karakter. Mono-floral honey seperti madu akasia atau madu kelengkeng hanya mungkin kalau lebah dikurung di satu area — yang tidak dilakukan oleh KTH ini.

Tidak ada standardisasi rasa — Setiap batch berbeda. Ini bukan masalah — ini pengakuan bahwa madu adalah produk alam, bukan produk factory.

Tidak ada pemanasan — Banyak madu komersial dipasteurisasi untuk membunuh ragi dan mencegah crystallization. Tapi pasteurisasi juga membunuh enzim dan antioksidan. Madu Sinar Borneo tidak dipasteurisasi — crystallization adalah tanda madu belum dipanasi.

Bagaimana Tahu Madu Ini Segar?

Tanda-tanda madu yang baik:

  • ** crystallization (pengentalan) normal** — Ini terjadi secara alami pada madu murni setelah beberapa bulan. Bukan tanda madu rusak.
  • Tidak ada busa — Busa menunjukkan fermentasi. Fermentasi terjadi kalau madu memiliki kadar air terlalu tinggi atau disimpan di tempat panas.
  • Rasa complexo — Madu murni punya rasa yang berubah saat dicampur dengan air hangat — tidak ada rasa tunggal, tapi banyak layer.

untuk Siapa Madu Ini?

KTH Sinar Borneo mencari pembeli yang memahami bahwa:

  • Madu bukan hanya “pemanis alami” — ini produk dengan karakter yang mencerminkan tempat asalnya
  • Batch berbeda bukan masalah — ini kejujuran terhadap nature
  • Sedikit lebih mahal dari madu supermarket bukan markup — ini mencerminkan kesulitan produksi dan tidak adanya subsidi

Hubungi kami untuk informasi ketersediaan dan sampling: 📱 0815-2154-4417 (WhatsApp tersedia)

Chat WhatsApp